Ekonomi Islam dalam spiral krisis pangan

NanjombangNews – Ekonomi Islam dalam spiral krisis pangan

Mohammad SaeedDan Guru Besar Ekonomi Islam FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Populasi dunia (2018) telah meningkat menjadi sekitar 7,549 miliar orang, memperlebar kesenjangan ketersediaan pangan dengan sumber daya alam yang langka. Di sisi lain, jumlah penduduk miskin diperkirakan mencapai 10 persen atau hampir 800 juta penduduk dunia.

Kesenjangan konsumsi antara si miskin dan si kaya masih tinggi. Sepertiga dari makanan yang layak dikonsumsi terbuang sia-sia. Padahal, jika dibagikan kepada 10 persen penduduk miskin, kekurangan pangan terpenuhi dan kebutuhan gizinya terpenuhi dengan baik.

Bahkan, dijuluki Indonesia Sebuah negara ajaib di dunia Karena sektor tanaman pangan (padi, jagung, kedelai dan umbi-umbian) sebenarnya melimpah dan, paradoksnya, garis kemiskinan (Bappenas, 2019) tercatat 23-48 ton/tahun atau 115-184 kg/orang/tahun.

Kesenjangan konsumsi antara si miskin dan si kaya masih tinggi. Sepertiga dari makanan yang layak dikonsumsi terbuang sia-sia.

makanan longgar Tercatat 45 persen pada tahun 2019 dengan rata-rata 56 persen terutama pada sektor tanaman pangan (serealia) dari 12 juta menjadi 21 juta ton/tahun.

Krisis ketahanan pangan adalah keadaan yang tidak sempurna ketika sebagian besar masyarakat memperoleh pangan dalam jumlah dan mutu (bergizi, halal, dan lain-lain) berdasarkan berbagai sumber daya nasional yang tidak sepenuhnya tercapai karena terhambatnya jalur distribusi pangan.

Banyak faktor penyebab krisis ketahanan pangan, antara lain dampak perubahan iklim dan bencana alam. Ekonomi Islam sebagai sistem berdasarkan prinsip syariah mengajarkan etika gaya hidup seperti pola konsumsi sederhana, tanpa kehilangan makna dan substansi.

Ekonomi Islam memiliki banyak prinsip dan kebijakan yang berkaitan dengan krisis ketahanan pangan.

Ekonomi Islam mengajarkan untuk membangun hubungan manusia dengan alam secara harmonis melalui pelestarian alam. Ekonomi Islam memiliki banyak prinsip dan kebijakan yang berkaitan dengan krisis ketahanan pangan.

PertamaSumber kekayaan alam adalah modal ekonomi Diberikan Tuhan.

Tugas seseorang adalah mengelolanya dengan baik dan benar untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan kaidah etika yang menghasilkan manfaat bagi seseorang. Manajemen berkelanjutan dan tata kelola yang baik sebagai prinsip universal telah menjadi bagian penting dari perhatian ekonomi Islam.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa pengelolaan kehidupan sehari-hari berlangsung terus-menerus dengan hasil yang akan dinikmati di masa depan.

KeduaEksplorasi sumber daya alam diarahkan untuk memenuhi kebutuhan manusia, bukan keinginan yang tidak terbatas.

ketigaPenyelenggaraan SKA gatra diarahkan untuk memperkuat ekonomi kerakyatan sebagai pilar perekonomian nasional. Ekonomi kerakyatan pada dasarnya adalah ekonomi partisipatif seperti halnya ekonomi Islam. Ekonomi Kerakyatan Berbasiskan Keluarga, menurut UUD 1945, Pasal 33 ayat 1-3.

Ekonomi Islam, seperti Pancasila, menekankan tauhid (ketuhanan), kemanusiaan, keadilan, musyawarah dengan keadaban yang sempurna, dan persatuan.

keempatPerilaku konsumsi ditekankan pada pola konsumsi yang moderat agar tercipta keseimbangan antara kebutuhan individu dan kebutuhan sosial sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat, antara lain QS al-Qashash ayat 77.

KelimaMempertimbangkan kehadiran orang lain bahkan perlu diperhatikan perilaku konsumtifnya membuang-buang makanan Dan makanan longgar, dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat miskin. Meningkatkan kesadaran bahwa sesuatu yang bermanfaat dapat digunakan untuk memberi manfaat bagi mereka yang membutuhkan.

Sesuatu yang bermanfaat dapat digunakan untuk memberikan manfaat bagi yang membutuhkan.

Dengan demikian, kehadiran kita dapat menyebarkan manfaat kepada orang lain. Kurangnya simpati sosial antara si kaya dan si miskin mencerminkan kurangnya “perasaan”, yang berdampak pada terganggunya pilar-pilar demokrasi kehidupan sosial di masyarakat.

Krisis ketahanan pangan nasional tidak lepas dari perkembangan geostrategi global. Negara sebagai suprastruktur dalam sistem ketatanegaraan mengarahkan kemauan politik untuk tujuan memaksimalkan potensi kekayaan alam bagi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Pemerintah memberikan ruang kepada masyarakat untuk memperoleh hak akses terhadap sumber daya ekonomi guna menjamin kehidupan yang bermartabat dan sejahtera, sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945.

Negara juga membuka jalan bagi masyarakat sipil melalui gerakan pendidikan budaya dan politik untuk menciptakan keseimbangan. Cek dan saldo Antara Tata Pemerintahan (TLP), Tatanan Kehidupan Masyarakat (TKM) dan Tata Kelola Politik Nasional (TPN).

Mengubah perilaku boros menjadi hemat membutuhkan kemauan yang didukung oleh sistem yang mengikat disertai dengan pemimpin teladan.

Interaksi dinamis antara negara (suprastruktur), sistem politik nasional (infrastruktur), dan sistem sosial (infrastruktur) memiliki hubungan yang saling bergantung dalam meningkatkan kesadaran dan berpartisipasi dalam mengatasi krisis ketahanan pangan.

Mengubah perilaku boros menjadi hemat membutuhkan kemauan yang didukung oleh sistem yang mengikat disertai dengan pemimpin teladan. Yang tidak kalah pentingnya adalah rekonstruksi budaya tradisional seperti roma gompa atau istilah lainnya di setiap daerah sebagai simbol ketahanan pangan di setiap daerah. Baca selengkapnya’;

Check Also

Biaya Haji Rp 69 Juta, Komite Haji Nasional: Peningkatan biaya untuk kemanfaatan dan kesinambungan keuangan haji

Biaya Haji Rp 69 Juta, Komite Haji Nasional: Peningkatan biaya untuk kemanfaatan dan kesinambungan keuangan haji

NanjombangNews – Biaya Haji Rp 69 Juta, Komite Haji Nasional: Peningkatan biaya untuk kemanfaatan dan …