Peringatan! Memprediksi Pertumbuhan Ekonomi Lebih Rendah Tahun 2023 | Balipuspanews.com

NanjombangNews – Peringatan! Memprediksi Pertumbuhan Ekonomi Lebih Rendah Tahun 2023 | Balipuspanews.com

Diskusi Gelora Talks bertajuk 'Mengintip Arah Stabilitas Global 2023', Rabu (18/1/2023).  (foto: Pesta Gelora)
Diskusi Gelora Talks bertajuk ‘Mengintip Arah Stabilitas Global 2023’, Rabu (18/1/2023). (foto: Pesta Gelora)

Jakarta, balipuspanews.com– Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) berharap calon presiden (Capris) dan wakil presiden (Capris) yang akan mencalonkan diri di Pemilu 2024 tidak hanya menunjukkan popularitasnya, tetapi juga memiliki gagasan untuk mengelola situasi krisis global saat ini yang semakin memprihatinkan dan mendalam.

“Calon presiden dan wakil presiden yang akan melalui perubahan politik di Indonesia pada tahun 2024 harus memberikan pencerahan. Dia harus memiliki ide yang bisa dikedepankan, ide yang bisa membawa Indonesia melewati tahap krisis saat ini. DPP Partai Gelora Indonesia Sekjen Mahfuz Sidik mengatakan, dalam Gelora Talks bertajuk ‘Mengintip Arah Stabilitas Global 2023, agar kita sebagai bangsa dapat melakukan lompatan besar untuk menjadi negara maju baru, sebagai kekuatan global baru’ Rabu (18/1/ 2023).

Dalam diskusi daringnya Partai Nomor 7, Mahfouz menyayangkan calon presiden masih disibukkan dengan urusan popularitas, padahal tren perubahan global saat ini mengancam masa depan Indonesia.

Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya untuk memitigasi kecenderungan perubahan global dan dapat menjadi bahan pengambilan kebijakan politik agar Indonesia tidak ada collateral damage atau sandwich di tengah tekanan memperjuangkan kepentingan kekuatan-kekuatan besar dunia.

“Dalam sejarahnya, Indonesia selalu menjadi collateral damage, dan menjadi sandwich di tengah perebutan kepentingan kekuatan dunia. Kita tidak ingin menjadi collateral damage lagi, kita harus mengelola arus. situasi krisis untuk kebaikan kita sendiri.”

Mahfouz meminta para calon presiden tidak ikut-ikutan hanya mengangkat isu-isu dangkal yang bertujuan menaikkan popularitas dan elektabilitas mereka.

“Masyarakat disibukkan dengan isu-isu yang dangkal, termasuk pemilihan pemimpin. Kita melompat-lompat tentang karakter mana yang paling disukai, dan kita melupakan gagasan tentang apa yang dibutuhkan Indonesia ketika terjadi pergantian kepemimpinan pada 2024.”

Untuk itu, Mahfouz sependapat dengan pernyataan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) saat menyampaikan pidato kenegaraannya di DRC pada 15 Agustus 2022, bahwa Indonesia harus bisa ‘membajak’ air pasang’. Krisis dan mampu membuat lompatan pada saat negara lain menderita dari ekonomi Crysis.

“Jadi apa yang disampaikan Presiden Jokowi ini sejalan dengan gagasan Partai Gelora dua tahun lalu yang terus kami sampaikan kepada masyarakat, bahwa kita harus bisa mengambil manfaat dari krisis yang terjadi saat ini. arah baru Indonesia.”

Menurut Mahfouz, selama dua tahun terakhir, Partai Gelora melalui Gelora Talks selalu mengangkat topik terkait tren perubahan global, meski dirasa topik tersebut terlalu berat dan elitis.

Namun, hal itu dilakukan sebagai bentuk pencerahan bagi pemerintah dan masyarakat agar lebih tenang dalam menghadapi situasi krisis global saat ini.

Mantan Ketua Komite I Republik Demokratik Kongo ini menyimpulkan bahwa “apa yang dilakukan Partai Gelora selama dua tahun terakhir ini dapat menaburkan gagasan-gagasan untuk kemajuan Indonesia ke depan setelah kita mampu mengelola situasi krisis global yang kita hadapi. sedang dilalui.”

Sementara itu, Pengamat Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung Teuku Rizasyah mengatakan, sebagai bangsa, Indonesia tidak boleh terlena dengan perkembangan di luar dampak perang Rusia-Ukraina saat ini.

Hal ini karena ada kecenderungan setiap negara di dunia saling bersentuhan dan keinginan untuk memperluas baik secara geografis maupun pengaruh.

“Pertanyaan kita semua adalah apakah kita bangsa yang besar, bangsa yang sulit, atau bangsa yang terpuruk oleh persaingan antar bangsa. Ada pepatah bijak dari Tsu Su yang berbunyi kenali dirimu. Juga surat dari Tjut Nya Dien kepada Teuku Omar tentang mengetahui kemampuan seseorang kata Tiko Razasiah.

Kemudian Teuku Rezasyah menyebutkan 7 rumusan kearifan universal yang bisa menjadi standar dalam menjalankan negara, antara lain meritokrasi, pendidikan, iptek, budaya, ekonomi pasar, pragmatisme, dan penegakan hukum.

“Di bidang kepantasan, tentukan dulu dalam pemilihan pemimpin di semua lini, bukan presiden saja. Pemimpin harus memiliki aset, pendidikan, keterampilan dan kepemimpinan yang jelas. Kepemimpinan di Indonesia adalah tanggung jawab partai politik yang memiliki kekuatan untuk membuat keputusan.”

Partai Bolol harus mampu menghadapi tantangan yang berat dalam melaksanakan pembentukan politik, pembaharuan dan mengangkat pemimpin. Partai politik harus bersinergi dengan partai politik lain untuk menentukan posisi. Jangan main-main dengan tujuh aturan di atas yang harus dipatuhi dengan ketat.”

Teuku Rezasyah berharap calon presiden dan wakil presiden serta kader partai politik yang akan mencalonkan diri sebagai caleg pada pemilu 2024 memiliki tujuh kriteria tersebut, sehingga memiliki kemampuan dan dapat membuat kemajuan di Indonesia.

“Jadi para capres dan cawapres serta kader partai politik yang saat ini berjumlah 18 harus mempersiapkan diri dengan tujuh kearifan universal ini, agar jika terpilih bukan karena uang atau kedekatan, tapi karena kemampuan dan kemampuan mereka.”

Kemudian Pemerhati Hubungan Internasional Unpad Bandung itu menyoroti nomor urut 7 yang diterima partai Gelora sebagai peserta pemilu 2024. Teuku Rezasyah menilai, angka 7 memiliki makna yang dalam baik dalam bahasa Jawa maupun Sunda.

“Tujuh dalam bahasa Jawa adalah pitu. Pitu artinya pitulangan atau mengharapkan pertolongan dari Tuhan Yang Maha Esa. Jadi pihak Gelora harus selalu dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa, agar mendapat hidayah atau pertolongan dan tidak besar kepala, karena kita hidup di masyarakat, seperti halnya di Jawa Barat, kita harus saling menjaga, dan “saling menjaga, saling menjaga,” ujarnya.

Sementara itu, peneliti CORE Indonesia Muhammed Ishaq mengatakan Indonesia harus memiliki peran yang lebih kuat dalam menghadapi tahun-tahun yang tidak pasti di tahun 2023.

“Pada tahun 2023 Indonesia akan menghadapi tahun-tahun yang sulit. Pada tahun 2023 perekonomian Indonesia akan tumbuh lebih rendah dibandingkan tahun 2022,” kata Ishak.

Ia mengatakan ada tiga faktor yang akan menyebabkan terpuruknya perekonomian Indonesia pada tahun 2023. Pertama, belum diketahui kapan perang antara Ukraina dan Rusia akan berakhir dan skala eskalasi yang akan terjadi sehingga menyebabkan tingginya tingkat inflasi di berbagai negara. negara.

Yang kedua adalah seberapa tinggi harga komoditas global. Ketiga, seberapa besar pemulihan yang dialami China akibat Covid-19 di China yang tidak berkurang meski sudah mulai menurun.

Selain itu, perlambatan pertumbuhan ekonomi China dan Eropa juga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia karena ketergantungan yang tinggi terhadap impor.

Pemerintah tidak boleh mengeluarkan kebijakan yang berdampak langsung pada masyarakat luas. Harga gas tidak boleh dinaikkan, dan bantuan sosial tidak boleh dikurangi atau dihentikan. Jangan tinggalkan kebijakan yang telah diberlakukan.”

Namun, pada kesempatan yang sama, pemerintah harus mampu mempersiapkan generasi muda, mendapatkan pendidikan yang baik, memberikan dukungan modal dan teknologi yang kuat, serta menjunjung tinggi good governance dalam aturan main dan pemerintahan.

Pengarang: Hardianto
Editor: Oka Suryoyan

Check Also

Biaya Haji Rp 69 Juta, Komite Haji Nasional: Peningkatan biaya untuk kemanfaatan dan kesinambungan keuangan haji

Biaya Haji Rp 69 Juta, Komite Haji Nasional: Peningkatan biaya untuk kemanfaatan dan kesinambungan keuangan haji

NanjombangNews – Biaya Haji Rp 69 Juta, Komite Haji Nasional: Peningkatan biaya untuk kemanfaatan dan …