Selamat datang di tahun politik – Bangkapos.com

NanjombangNews – Selamat datang di tahun politik – Bangkapos.com

sebuah Rekan-rekan dari Jakarta yang sudah lama tidak terdengar kabarnya tiba-tiba disapa melalui pesan pribadi di WhatsApp. Untuk beberapa putaran, basa-basi dilemparkan untuk mengatur percakapan.

Belakangan, sang rekan mengirimkan dokumen berisi daftar dosa seorang pejabat politik di Kabupaten Bangka Belitung. Saya sengaja memilih kata “Pejabat Politik di Kabupaten Bangka Belitung” agar tidak mengarah pada satu atau dua pejabat, tetapi pada politisi secara umum, baik eksekutif maupun legislatif.

Secara langsung, dokumen tersebut berisi kesalahan administrasi lengkap dengan pertanggungjawaban kemungkinan kerugian negara.

Sementara pertukaran surat sedang berlangsung, saya tidak sempat membaca isi surat secara detail. Saya hanya menanyakan asal dokumen yang diserahkan, serta menyimpan dokumen tersebut di ponsel saya.

Namun, entah kenapa, lelaki tua asal Jakarta ini tiba-tiba menghapus dokumen kiriman saya dari layar pesan ponsel saya, setelah saya membalas salah satu pesannya dengan “Selamat datang di tahun politik”.

Sebagai referensi, dalam dialog default, saya tidak menunjukkan minat pada dokumen yang dikirimkan. Saya bahkan bertanya kepadanya dalam beberapa balasan apakah dia tidak khawatir jika saya “mengekstrak” dokumen dan menyelesaikannya dengan “pemerasan” sehingga tugas tersembunyi tidak memenuhi harapan.

Percakapan ini terjadi sekitar satu atau dua minggu yang lalu dan saya baru ingat ketika saya memulai paragraf pertama artikel ini. Ngomong-ngomong, kita semua diingatkan bahwa kita semua sudah memasuki awal tahun 2023, ketika sepanjang tahun ini akan diisi dengan berbagai macam intrik politik.

Terlepas dari keakuratan dokumen tersebut, tampaknya selama tahun 2023 model seperti itu akan muncul. Tujuannya sederhana, dokumen berisi daftar dosa para politisi ini bertujuan untuk membunuh lawan politik, atau setidaknya menguras tenaga lawan politik sehingga saat berebut suara energinya terganggu.

Hal ini menjadi pengingat bagi kita semua, khususnya para jurnalis, bahwa memasuki tahun 2023 ini, kita harus mulai meningkatkan akurasi dan prinsip dasar jurnalistik yaitu coverage both side dan kehati-hatian.

Pesan ini juga harus dapat dipahami oleh khalayak yang kini memiliki media sosial. Kami tidak bisa begitu saja mempublikasikan sesuatu yang berpotensi menganiaya individu tanpa memeriksa fakta informasinya. Perlu kita ketahui bahwa kegiatan medsos kita menjadi sasaran UU ITE yang banyak memuat pasal-pasal karet.

Selain kampanye Blacks, di tahun 2023 juga akan banyak politisi yang sebelumnya berada di awan dan yang seolah tidak pernah menginjakkan kaki akan kembali turun gunung.

Politisi yang sebelumnya duduk dengan baik di kursi atau memenangkan posisi akan berubah menjadi Sinterklas atau pembantu Tuhan yang tampaknya semakin peduli dengan populisme.

Jajaran media sosial kita juga akan dibanjiri suara berbayar yang akan mendewakan kepribadian politisi yang dibela sekaligus membunuh kepribadian lawan politik dengan berbagai cara. Operasi, tanpa kecuali, di media arus utama akan lebih banyak orang yang tiba-tiba memamerkan prestasinya.

Apa yang bisa kita lakukan? Faktanya, rakyat sebagai penguasa negeri ini selalu berada pada posisi yang menentukan. Banyak faktor yang menjadikan demokrasi kita sebagai demokrasi kelas bawah, dimana demokrasi kita adalah demokrasi transaksional.

Pemilih benar-benar terjebak dalam mengejar sesuatu yang nyata sebelum pemungutan suara daripada menaruh harapan tinggi pada perubahan yang lebih mendasar. Kita harus jujur ​​mengatakan bahwa partai politik, sebagai partai yang paling bertanggung jawab atas pendidikan politik, juga melalaikan tugas pokoknya.

Pemilu sudah dekat. Sejauh ini, kami bahkan belum membuat mimpi atau cita-cita besar untuk mempercayakan pesta lima tahun itu. Di tingkat nasional, kita masing-masing lebih sibuk membicarakan kepribadian dan tidak pernah memperdebatkan cita-cita.

Demi tiga uang, di daerah-daerah kita juga sering berbicara tentang siapa yang berjuang siapa yang berjuang daripada berbicara tentang masa depan negara sekutu ini. Inilah realita yang kita hadapi bersama ketika kita harus mengucapkan selamat datang di tahun politik!

Check Also

Biaya Haji Rp 69 Juta, Komite Haji Nasional: Peningkatan biaya untuk kemanfaatan dan kesinambungan keuangan haji

Biaya Haji Rp 69 Juta, Komite Haji Nasional: Peningkatan biaya untuk kemanfaatan dan kesinambungan keuangan haji

NanjombangNews – Biaya Haji Rp 69 Juta, Komite Haji Nasional: Peningkatan biaya untuk kemanfaatan dan …