Amazing UB menggelar simposium pengendalian emisi gas rumah kaca melalui mekanisme nilai ekonomi karbon

NanjombangNews – UB menggelar simposium pengendalian emisi gas rumah kaca melalui mekanisme nilai ekonomi karbon

Rektor UB Prof. Widodo, MA, MA, PhD (nomor tiga dari kiri) saat menghadiri pembukaan Simposium Nasional Keberlanjutan dengan topik Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Melalui Mekanisme Ekonomi Nilai Karbon (NEK), Sabtu (14/1/2023), di gedung F FEB UB, Malang. (IST)

READMALANG.COM – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) bekerjasama dengan Institute of Certified Sustainability Practitioners (ICSP) dan National Center for Corporate Reporting (NCCR), menyelenggarakan Seminar Nasional Keberlanjutan dengan topik Pengendalian Gas Rumah Kaca Emisi Melalui Mekanisme Nilai Ekonomi Karbon (NEK) , Sabtu (14/1/2023), di Gedung F FEB UB Malang.

Simposium yang dihadiri oleh para wisudawan dan dosen serta konsultan keberlanjutan 2 ini terbagi dalam diskusi panel yang melibatkan tiga dosen, pertama Dr. Wahyu Marjaka, M.Eng, Direktur Pengerahan Sumber Daya Sektoral dan Daerah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yang menyampaikan materi tentang mekanisme nilai ekonomi karbon.

Kedua, Martinus Haryo Sutejo, ST., M.Si., Pakar CSRA ESG & Carbon Accounting, PT Surveyor Indonesia yang membahas tentang pengungkapan terkait iklim, dan ketiga, Dr. Ali Darwin, Ak., M.Si. Direktur Eksekutif CSRA, ESG Academy, National Center for Corporate Reporting, yang membahas tentang akuntansi gas rumah kaca.

Rektor UB Prof. Widodo, MA, MA, PhD mengatakan, akademisi adalah bagian dari masyarakat Indonesia yang harus memikirkan kelestarian atau kelestarian lingkungan agar tidak terputus, apalagi saat ini masyarakat begitu concern terhadap masalah lingkungan yang berada di atas tanah.

“Sebenarnya oksigen juga berasal dari lautan, jadi kualitas air adalah bagian yang paling penting. Jangan sampai laut kita terluka. Jadi kita harus memikirkan dampak yang lebih serius, tidak hanya yang ada di atas permukaan saja,” kata dia. mantan dekan FMIPA.

sebuah. Widodo mengatakan dunia sedang melalui siklus di mana kelangsungan hidup harus terus berlanjut.

“Oleh karena itu, kelestarian lingkungan dan ekosistem harus dijaga,” ujarnya.

Simposium ini dipicu oleh berbagai upaya pengendalian emisi gas rumah kaca (GRK) yang dimulai pada tahun 1977 melalui Protokol Kyoto, namun tidak menunjukkan hasil yang signifikan.

Oleh karena itu, Perjanjian Paris 2015 menjadi pendorong untuk pengendalian emisi gas rumah kaca secara lebih tertib, terencana dan berkomitmen penuh oleh masyarakat global.

Setiap negara telah menyatakan komitmennya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Indonesia berjanji untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada tahun 2030 sendiri atau hingga 41% jika bantuan internasional tersedia.

Pada saat yang sama, keseriusan pemerintah Indonesia dalam berkontribusi dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim terlihat dengan mengeluarkan beberapa peraturan dan perangkat serta melaksanakan berbagai langkah strategis yang semuanya ditujukan untuk pengendalian emisi gas rumah kaca.

Salah satunya yang paling baru adalah terkait penerapan penerapan nilai ekonomi karbon yang diatur dalam Permen LHK No. 21 Tahun 2022 tanggal 21 Oktober 2022 sebagai aturan pelaksanaan dari Peraturan Presiden No. 98 Tahun 2021 tentang implementasi nilai ekonomi karbon. (*/ned)

Check Also

Amazing Bandara Arab Saudi menerima jemaah, mulai 21 Mei 2023

Amazing Bandara Arab Saudi menerima jemaah, mulai 21 Mei 2023

NanjombangNews – Bandara Arab Saudi menerima jemaah, mulai 21 Mei 2023 IHRAM.CO.ID, RIYADH – Otoritas …