Amazing Pembatalan PPKM dapat mendorong pertumbuhan ekonomi

NanjombangNews – Pembatalan PPKM dapat mendorong pertumbuhan ekonomi

Presiden Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) m. Arsjad Rasjid mengatakan kepada VOA, pembatalan PPKM berpotensi meningkatkan konsumsi masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Apalagi, kata Arzad, Kementerian Kesehatan memastikan kasus COVID-19 di Indonesia sudah terkendali. “Terkait penghapusan PPKM, bagi kami sebagai pengusaha dan pelaku usaha tentunya sangat menyambut baik rencana ini, ketika PPKM dihapus maka pergerakan masyarakat akan terus meningkat sehingga berpotensi meningkatkan konsumsi masyarakat juga. sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.”

Direktur Eksekutif Center for Economic Reform (CORE), Muhammad Faisal, mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia terlanjur terhambat akibat penerapan PPKM dan menyambut baik upaya pencabutan PPKM tersebut.

Ia menilai rencana pembatalan PPKM cukup beralasan karena COVID-19 relatif terkendali. Kalaupun ada lonjakan, kata dia, skalanya tidak luas dan angka kematiannya rendah. Ia pun menilai, “Misalnya pada 2021, varian delta memiliki angka kematian yang tinggi, sehingga pada saat itu mobilitas juga terbatas, dan perekonomian kita terpukul. Tapi jika dibandingkan dengan PSBB di awal pandemi 2020, dampak PSBB 2020 lebih dalam.” Makanya secara ekonomi terbelakang.”

“Pada tahun 2021, meskipun penerapan PPKM saat itu sangat ketat tetapi dampak ekonomi tidak menyebabkan penurunan pada kuartal ketiga.Pada tahun 2022, ada Omicron di awal, dan jumlah kasusnya lebih banyak dari Delta, saat PPKM dicetuskan,” kata Faisal, tidak dilaksanakan, dan dampak ekonominya lebih kecil.

CORE memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan berkisar 4,5-5 persen.

Menurut Faisal, kendala terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 adalah situasi global. Permintaan produk ekspor dari negara maju diperkirakan melemah seiring dengan penurunan permintaan domestik di Amerika, Eropa dan China.

Yang harus diwaspadai pemerintah, menurut Faisal, adalah dampak pandemi terhadap kalangan menengah ke bawah dan usaha mikro, kecil, dan menengah. Apalagi, kata dia, mereka mengalami tekanan inflasi akibat kenaikan harga BBM bersubsidi.

Faisal berharap tahun depan pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan yang melemahkan daya beli masyarakat. Eco Listianto, pengamat ekonomi dari Institute for Economic Development and Finance (Indef), memperkirakan pembatalan PPKM akan berdampak positif meski tidak signifikan terhadap perekonomian.

“Efek (positif) pertama tentu kepercayaan pelaku usaha karena terjadi tahun depan banyak yang memperkirakan ekonomi global melambat. Tapi nyatanya Indonesia adalah kekuatan utama ekonomi dalam negeri. Jika PPKM dibatalkan dan wabah berakhir seperti penyakit endemik, menurut saya potensinya bisa meningkat.Meningkatkan perekonomian masyarakat khususnya di sisi konsumen secara maksimal,” kata Eko.

Menurut Eko, Badan Pusat Statistik (BPS) pernah melakukan survei dan menyimpulkan sekitar 70-80 persen dunia usaha terkena dampak pandemi COVID-19, dan usaha mikro, kecil, dan menengah yang paling terdampak.

Ia berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan yang lebih mendukung usaha kecil dan menengah sehingga dapat menggerakkan ekonomi lokal. Dia mengatakan, pasar besar di dalam negeri harus lebih dinikmati oleh produsen lokal. [fw/ab]

Check Also

Wow Aris Paywai asli Sulawesi Selatan Jadi Plt Wali Kota Batu, Komitmen Pengembangan Pariwisata di Jawa Timur

Wow Aris Paywai asli Sulawesi Selatan Jadi Plt Wali Kota Batu, Komitmen Pengembangan Pariwisata di Jawa Timur

NanjombangNews – Aris Paywai asli Sulawesi Selatan Jadi Plt Wali Kota Batu, Komitmen Pengembangan Pariwisata …